Senin, 27 April 2009

In Memorian Aji Ridwan Sya'Ranie BA


Innalilahi wa Innnalihi Raji'un
Telah berpulang kerahmatullah
Mantan Camat Anggana Tahun 2003 - 2006
AJI RIDWAN SYA'RANIE, BA
Pada hari Minggu tanggal 26 April 2009 di Rumah Sakit Islam Samarinda
KAMI SEGENAP PEGAWAI DAN STAF KANTOR CAMAT ANGGANA
MENGUCAPKAN
TURUT BERDUKA CITA SEMOGA AMAL IBADAH BELIAU DAPAT DITERIMA DISISI ALLAH SWT DAN SEMOGA DOSA-DOSA BELIAU DAPAT DIAMPUNI AMIN YA ROBBAL ALAMIN.....

Senin, 23 Maret 2009

Proyek ADD Dapat Dikerjakan Secara Swakelola

Pengelolanya Harus Terbuka dan Bertanggungjawab

Proyek ADD Dapat Dikerjakan Secara Swakelola

Kamis, 19 Maret 2009 Oleh Rina Wardhani • Pemerintahan
HM. ASWIN Sekretaris Kabupaten Kutai Kartanegara
HM. ASWIN Sekretaris Kabupaten Kutai Kartanegara
Foto : Diskominfo

Sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup) No. 73/2008 Tentang Petujuk Teknis Pengadaan Barang/jasa/kegiatan di Desa (swakelola pemerintah desa dan swakelola padat karya),pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) harus terbuka, partisipatif dan bertanggungjawab.

Sekkab Kukar, HM Aswin menjelaskan ini untuk melaksanakan pembangunan,pemberdayaan dan pelayanan kepada masyarakat dengan memprioritaskan kebutuhan masyarakat desa, kemampuan keuangan desa serta urusan yang menjadi kewenangan pemerintah desa. Kegiatan pengadaan barang/jasa/kegiatan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Desa tentang APBDesa dapat di laksanakan secara swakelola dengan mempedomani peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Kegiatan swakelola dalam pengadaan barang/jasa/kegiatan di Desa dilaksanakan dengan mempertimbangkan asas efisiensi, akuntabilitas dan dapat dipertanggungjawabkan serta kemampuan sumber daya manusia yang ada di desa.

Adapun kegiatan swakelola dibagi dua yaitu,swakelola pemerintah desa dan swakelola padat karya,” kata Aswin yang juga ketua Tim Fasilitasi ADD.

Menurutnya,swakelola pemerintah desa merupakan kegiatan yang di rencanakan,dikerjakan,dan diawasi sendiri (sesuai kepala urusan) pemerintahan desa dan bersama-sama masyarakat.

Sedangkan kegiatan swakelola padat karya dilaksanakan oleh lembaga kemasyarakatan seperti LPM, Lembaga Adat, Karang Taruna, RT/RW, PKK serta kelompok masyarakat lainnya. Tujuannya, menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa agar memperoleh pendapatan tambahan sekaligus memberdayakan potensi tenaga kerja dalam membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan, serta menumbuhkembangkan perekonomian, dan mengurangi dampak negatif pengangguran.

Secara umum mekanisme pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/jasa/kegiatan di mulai dari kepala desa (Kades) yang menetapkan Sekretaris Desa sebagai Koordinator PTPKDes, Kades menetapkan kepala urusan sebagai PTPKDes berdasarkan bidang urusan masing-masing. Kepala urusan umum ditetapkan sebagai PTPKDes yang berkaitan dengan bidang urusan umum, kepala urusan pemerintahan ditetapkan sebagai PTPKDes yang berkaitan dengan kegiatan pemerintahan, kepala urusan pembangunan ditetapkan sebagai PTPKDes yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan.

Kemudian kepala desa menetapkan Tim Pengadaan dan Tim Pengawas Kegiatan, Tim Pengadaan melaksanakan persiapan dan pengadaan seleksi pengadaan barang/jasa/kegiatan. Diupayakan untuk kegiatan yang dilaksanakan secara Swakelola padat karya minimal ada tiga pemohon untuk dilakukan pemilihan langsung kepada lembaga kemasyarakatan/kelompok masyarakat sesuai kriteria yang ditentukan,Tim Pengawas melaksanakan pengawasan dimulai sejak dilakukan proses pengadaan, Pelaksanaan sampai dengan akhir dari kegiatan tersebut.(koran kaltim/hmp15)


Kampanye Caleg Belum Gencar di Anggana

Minggu, 22 Maret 2009
Kampanye Caleg Belum Gencar di Anggana
Baru Sebatas Rapat kecil

Sapos.Co.id WALAU pelaksanaan pemilu tinggal hitungan hari, gaung kampanye calon anggota legislatif (caleg) belum terlalu bergema di wilayah Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Seperti yang diungkapkan Camat Anggana, Akhmad Taufik Hidayat SIP saat dikonfirmasi Sapos belum lama ini. "Belum ada yang kampanye besar-besaran. Paling hanya acara-acara kecil saja," tuturnya.

Taufik melanjutkan, walau kampanye terbuka sudah boleh dimulai semenjak Rabu (18/3) lalu, namun di Anggana belum kelihatan kampanye terbuka para calegnya. Padahal di lapangan, sangat banyak alat peraga kampanye (algaka) berupa baliho, banner, umbul-umbul serta bendera. Tidak kalah dengan di kota-kota, algaka setiap caleg ini pun seakan saling bersaing antara satu dengan yang lainnya.

Taufik menambahkan, kampanye yang dilakukan selama ini masih berupa pertemuan kecil di dalam ruangan tertutup. Itu dilakukan oleh para caleg dari partai-partai kecil. Sedangkan untuk partai besar, ia mengaku belum ada kelihatan aktifitas kampanye.

Pengerahan massa dalam jumlah yang besar pun sejauh ini belum ada. Pertemuan kecil itu pun hanya melibatkan sebagian kecil masyarakat di wilayah tersebut.

"Ya, mungkin karena baru awal-awal. Makanya belum kelihatan," tambahnya.

Taufik berharap agar semua warga bisa menjaga situasi yang kondusif menjelang pelaksanaan Pemilu 9 April mendatang. Juga kepada semua caleg dan sejumlah pengurus partai politik (parpol) agar bisa mematuhi segala Undang Undang (UU) Pemilu serta peraturan dan etika kampanye yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) baik tingkat nasional maupun daerah. (rm-2)



Kamis, 19 Maret 2009

Aswin : Pengelolaan ADD Harus Terbuka dan Bertanggung Jawab

Sosialisasikan Perbub No.73/2008 Tentang Petnjuk Teknis Pengadaan Barang/jasa


Dikirim Kamis, 19 Maret 2009 Oleh andi | Pemerintahan
HM Aswin
HM Aswin

TENGGARONG - Sesuai dengan peraturan bupati (Perbub) No. 73/2008 tentang petunjuk teknis pengadaan barang/jasa/kegiatan di desa (swakelola-pemerintah desa dan swakelola-padat karya), "Pengelolaan alokasi dana desa (ADD harus terbuka, partisipatif dan bertanggungjawab. " kata Sekkab Kukar HM Aswin baru-baru ini di Tenggarong.

Menurut Aswin yang juga Ketua Tim Fasilitasi ADD menjelaskan bahwa Untuk melaksanakan pembangunan, pemberdayaan dan pelayanan kepada masyarakat dengan memprioritaskan kebutuhan masyarakat desa, kemampuan keuangan desa serta urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah Desa, kegiatan pengadaan barang/jasa/kegiatan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Desa tentang APB Desa dapat dilaksanakan secara swakelola dengan mempedomani peraturan perundang-undangan yang berlaku.
“Kegiatan swakelola dalam pengadaan barang/jasa/kegiatan di desa dilaksanakan dengan mempertimbangkan asas efisiensi, akuntabilitas/dapat dipertang-gungjawabkan serta kemampuan sumber daya manusia yang ada di desa. Adapun kegiatan swakelola dibagi menjadi dua yaitu, swakelola pemerintah desa dan swakelola padat karya,” katanya.
menurutnya, swakelola pemerintah desa merupakan kegiatan yang direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri (sesuai kepala urusan) Pemerintahan Desa bersama-sama masyarakat. Sedangkan kegiatan Swakelola-Padatkarya dilaksanakan oleh lembaga kemasyarakatan (LPM, Lembaga Adat, Karang Taruna, RT/ RW, PKK serta Kelompok masyarakat) dan lembaga kemasyarakatan lainnya. Dengan maksud untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa agar memperoleh pendapatan tambahan sekaligus memberdayakan potensi tenaga kerja dalam membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan, serta menumbuh kembangkan perekonomian, mengurangi dampak negatif pengangguran. Secara umum mekanisme pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/jasa/kegiatan sebagai berikut. Kepala desa (Kades) menetapkan Sekretaris Desa sebagai Koordinator PTPKDes,Kades menetapkan kepala urusan sebagai PTPKDes berdasarkan bidang urusan masing-masing. Kepala urusan umum ditetapkan sebagai PTPKDes yang berkaitan dengan bidang urusan umum, Kepala urusan pemerintahan ditetapkan sebagai PTPKDes yang berkaitan dengan kegiatan Pemerintahan, Kepala urusan Pembangunan ditetapkan sebagai PTPKDes yang berkaitan dengan kegiatan Pembangunan, dan seterusnya. Kemudian Kepala Desa menetapkan Tim Pengadaan dan Tim Pengawas Kegiatan, Tim Pengadaan melaksanakan persiapan dan pelaksanaan seleksi pengadaan barang/jasa/kegiatan. Diupayakan untuk kegiatan yang dilaksanakan secara Swakelola-padatkarya minimal ada 3 (tiga) pemohon untuk dilakukan pemilihan langsung kepada lembaga kemasyarakatan/kelompok masyarakat sesuai kriteria yang ditentukan, Tim Pengawas melaksanakan pengawasan dimulai sejak dilakukan proses pengadaan, Pelaksanaan sampai dengan akhir dari kegiatan tersebut. jelasnya. (hmp15).


Selasa, 17 Maret 2009

Investor Siap Bangun SPBU di Anggana

Selasa, 17 Maret 2009
Investor Siap Bangun SPBU di Anggana

Sapos.co.id, WARGA di sekitar wilayah Kecamatan Anggana, terutama yang memiliki kendaraan bermotor sudah bisa bernafas lega. Pasalnya, dalam waktu dekat kesulitan untuk membeli BBM (Bahan Bakar Minyak, Red) bisa segera teratasi. Rencananya, di wilayah tersebut, akan dibangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Hal ini diungkapkan Camat Anggana, Akhmad Taufik Hidayat SIP saat dikonfirmasi Sapos siang kemarin.

"Sudah ada investornya, Barusan tadi (kemarin, Red) dia (investor, Red) datang. Saat ini ia sedang dalam proses negosiasi dengan pihak Pertamina," terangnya.

Taufik melanjutkan, keberadaan SPBU itu menjadi fasilitas yang sangat penting. Pasalnya, selama ini Anggana belum memiliki SPBU. Yang ada hanya APMS (Agen Premium Minyak dan Solar, Red). Itu pun ukuran yang kecil letaknya di pinggir Sungai dan jauh dari akses jalan kendaraan darat. Karenanya, APMS tersebut selama ini hanya diperuntukkan bagi kendaran sungai.

Sementara, kendaraan darat lainnya lebih memilih menggunakan bensin eceran yang dijual di pinggir-pinggir jalan. Jika membeli dalam jumlah yang banyak, warga harus rela meluangkan waktunya ke Samarinda untuk mencari SPBU yang menjual BBM non subsidi. Soal lokasi yang pastinya Taufik belum bisa menyebutnya.

"Nanti saja. Yang jelas lokasinya tepat dan pas, terutama strategisnya agar bisa diakses semua warga dari berbagai desa,""sebutnya. Soal kapan mulai pembangunannya Taufik belum memastikan. Namun ia memastikan, itu bisa dilaksanakan dalam waktu dekat, setelah ada jawaban dari Pertamina.

"Karena masih dilobby investornya jadi belum bisa dipastikan kapan pembangunannya dimulai. Tapi yang jelas begitu ada kepastian jawaban dari pertamina, langsung kita tindaklanjuti," pungkasnya. (rm-2)



Pekerja anak di Kukar

Pekerja Anak di Kukar Terus Berkurang

Jumat, 13 Maret 2009 Oleh Gusdut • Pemerintahan
Tampak seorang anak yang bekerja pada industri kepiting di Kec. Samboja.
Tampak seorang anak yang bekerja pada industri kepiting di Kec. Samboja.
Foto : Gusdut.

Guna mempercepat tindak lanjut pemberantasan pekerja anak di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Komite Zona Bebas Pekerja Anak (ZBPA) Kukar melakukan rapat koordinasi (Rakor) bersama pihak terkait, Rabu (11/3) lalu.

Rakor dipimpin Ketua Komite ZBPA sekaligus Asisten IV Sekkab Kukar, AR Ruznie OMS, membahas tindaklanjut agenda ZBPA dari Rakor di Pendopo Odah Etam, Kamis (5/3) pekan lalu yang dipimpin Penjabat (Pj) Bupati, Sjachruddin.

Pencanangan Zona Bebas Pekerja Anak (ZBPA) oleh Pemkab Kukar 4 Nopember 2002 lalu, saat ini hampir berhasil. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kukar, jumlah pekerja anak pada Desember 2007 lalu, sebanyak 334 orang dan Desember 2008 menurun secara drastis menjadi 63 orang.

“Ini merupakan langkah baik dan tidak terlepas dari semua unsur mendukung, baik petugas di masing-masing zona maupun masyarakat,” ungkap Ruznie saat memimpin rapat yang dihadiri kepala instansi terkait.

Lebih lanjut Ruznie OMS mengatakan, dari hasil pendataan terdapat 63 orang, diantaranya 33 orang pada jenis pekerjaan berbahaya dan 30 orang kepada pekerjaan ringan.

Dimana Kecamatan Muara Muntai terdapat 10 orang, Muara Wisdan Kota Bangun masing-masing 8 orang, Samboja 7 orang, Marangkayu 6 orang, Anggana dan Kenohan 4 orang, Tenggarong dan tabang 3 orang, Muara Kaman, Muara Badak dan Muara Jawa 2 orang serta Sanga-sanga, Loa Janan, Sebulu, Kembang Janggut masing - masing 1 orang.

Sedangkan Loa Kulu dan Tenggarong Seberang tidak ada, namun Kepala Disnakertrans Kukar, Nasir Umar, menambahkan akan mengirimkan surat pendataan kembali kepada setiap kecamatan. Apakah benar-benar sesuai pendataan yang sudah dilakukan, sehingga saat turun ke lapangan nanti tidak mengalami hambatan.

Nasir juga menambahkan, ke-63 orang itu terdiri dari kelompok umur 7-12 tahun, 13-15 tahun serta 16-18 tahun, kelompok 16-18 tahun. Umumnya mereka sudah dewasa dan bekerja, namun sekitar 13 orang masih bisa dikatakan

anak-anak usia sekolah dan tak pantas bekerja. Karena itu Dinas Pendidikan (Disdik) dan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) sangat dibutuhkan keterlibatannya dalam mengentaskan ZBPA tahun ini.(Hmp11)


Rabu, 11 Maret 2009

Bulan Depan Jembatan Kutai Lama Rampung

JEMBATAN Kutai Lama sepanjang 150 meter yang menghubungkan Desa Anggana dengan Kutai Lama akan rampung bulan depan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa (Kades) Kutai Lama Endang Saharudin kepada Sapos siang kemarin. "April targetnya sudah dapat langsung digunakan," terangnya.

Endang mengatakan, target tersebut sesuai yang dijanjikan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) saat dirinya bersama warga setempat menanyakan kejelasan pembangunan jembatan tersebut beberapa bulan lalu di Tenggarong.

"Itu memang target dari mereka (PU). Tapi jika April nanti belum bisa rampung juga, nanti kita tanyakan kembali, kira-kira kendalanya apa," lanjutnya.

Endang bersama warga setempat sering mempertanyakan kapan pembangunan jembatan tersebut rampung. Pasalnya, keberadaannya menjadi akses yang sangat penting bagi warga setempat. "Kan bagus kalau cepat selesai, biar bisa konsentrasi untuk pembangunan yang lain," timpalnya.

Diakuinya, pembangunan jembatan yang dibangun sejak 2002 lalu itu masih terus berjalan. Bahkan ia menyebut, sekarang sudah memasuki tahap finishing. Namun Endang tak mengetahui pasti progressnya. Jembatan tersebut ditangani langsung Dinas PU Kukar.

Jika jembatan tersebut rampung, kata dia, orientasi untuk mewujudkan Kutai Lama sebagai obyek wisata rohani akan segera terwujud. Selain itu, rencananya akses jalan dari desa Anggana menuju Kutai Lama yang masih berupa tanah dan belum diaspal itu juga akan segera diperbaiki. Perbaikan yang diminta pihaknya kali ini tidak muluk-muluk berupa pengaspalan. Peningkatan sarana jalan berupa pengerasan pun sudah cukup baginya bersama warga setempat.

"Pengerasan saja sudah cukup. Soalnya kalau hujan, jalannya becek," tambahnya lagi. (Sapos rm-2)

Pelantikan 25 Pejabat Kukar

Pj Bupati Kukar Lantik 25 Pejabat Struktural

Jumat, 06 Maret 2009 Oleh M. Agri W. • Pemerintahan Camat Muara Badak Sunggono (kiri) membacakan Pakta Integritas di hadapan Pj Bupati Kukar H Sjachruddin usai dilantik dan diambil sumpahnya
Camat Muara Badak Sunggono (kiri) membacakan Pakta Integritas di hadapan Pj Bupati Kukar H Sjachruddin usai dilantik dan diambil sumpahnya
Foto : M. Agri Winata

Sebanyak 25 pejabat struktural eselon II dan III di lingkungan Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) tadi pagi secara resmi dilantik dan diambil sumpahnya oleh Pj Bupati Kukar H Sjachruddin MS di Pendopo Odah Etam, Tenggarong. Pejabat yang dilantik tersebut terdiri dari 7 kepala dinas/instansi dan 18 orang Camat se-Kukar.

Adapun pejabat eselon II yang dilantik tadi pagi adalah H Otoy Usman sebagai Kepala Badan Penelitian & Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kukar, H Suko Buono sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat & Pemerintahan Desa (Bapemdes) Kukar, H Abdul Thalib sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kukar, dan H Hermawan sebagai Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kukar.

Kemudian M Abniansyah Utun sebagai Kepala Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Kukar, H Basri Hasan sebagai Kepala Dinas Pertambangan & Energi (Distamben) Kukar, serta H Awang Ilham sebagai Sekretaris DPRD Kukar.

Sementara dari 18 Camat yang dilantik, 14 orang merupakan wajah lama yang dikukuhkan kembali di posisi yang tetap. Kemudian sisanya sebanyak 4 orang merupakan wajah baru.

Ke empat Camat baru tersebut adalah Teguh Yulianto sebagai Camat Tenggarong Seberang, H Sunggono sebagai Camat Muara Badak, Machmud Nurdin sebagai Camat Marang Kayu dan M Irianto sebagai Camat Kembang Janggut.

Pj Bupati Kukar Sjachruddin dalam sambutannya mengatakan, jabatan yang diberikan adalah amanah yang harus diemban dengan sepenuh hati.

“Bukan hanya sekedar kepercayaan akan tetapi harus dimaknai juga sebagai sebuah tanggung jawab untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih serta melaksanakan pembangunan di Kukar,” ujarnya.

Oleh karena itu, Pj Bupati Kukar meminta kepada pejabat yang baru dilantik untuk melaksanakan amanat dengan penuh keikhlasan, bekerja guna membawa sistem pemerintahan lebih baik di masa yang akan datang.

Pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan terhadap 25 pejabat struktural tersebut ditandai pula dengan penandatanganan berita acara pelantikan serta pembacaan Pakta Integritas yang diwakili oleh Camat Muara Badak H Sunggono. Selanjutnya, satu per satu para pejabat yang dilantik menandatangani Pakta Integritas di hadapan Pj Bupati Kukar H Sjachruddin.

Pj Bupati Kukar H Sjachruddin (kanan) saat melantik 25 pejabat struktural eselon II & III di lingkungan Pemkab Kukar di Tenggarong tadi pagi
Pj Bupati Kukar H Sjachruddin (kanan) saat melantik 25 pejabat struktural eselon II & III di lingkungan Pemkab Kukar di Tenggarong tadi pagi

Rabu, 04 Maret 2009

Santri TKA harus jadi peserta MTQ, Kalah Tidak Masalah.

Persiapan MTQ Muara Kaman Sudah Maksimal

Senin, 02 Maret 2009 Oleh Gusdut • Keagamaan
Panggung yang terus dikejar pembuatan guna suksesnya MTQ ke-31.
Panggung yang terus dikejar pembuatan guna suksesnya MTQ ke-31.
Foto : Gusdut.

Menjelang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-31 Tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang dilaksanakan di Kecamatan Muara Kaman, sejumlah persiapan panitia terus dimatangkan.

Camat Muara Kaman, Asmuni berharap santri Taman Kanak-kanak Alquran (TKA) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Muara Kaman, bisa menjadi peserta MTQ.

Saya ingin diantara santri TKA ini ikut MTQ, yang penting harus menjadi peserta MTQ. Kalah tidak masalah yang penting keberanian,” kata Asmuni seusai wisuda TKA BKPRMI di Masjid Nurul Iman, Muara Kaman, Kamis (19/2) lalu.

Camat Muara Kaman Asmuni S.Sos.

Camat Muara Kaman Asmuni S.Sos.
Foto : Gusdut.
Menurutnya, keberanian santri untuk tampil harus diasah. “Saya bangga jika santri TKA BKRPMI Muara Kaman itu tampil, dapat melecut semangat santri lain untuk memperdalam dan mengasah ketrampilan membaca Alquran,” katanya lagi.

Asmuni juga menyampaikan persiapan Muara Kaman sebagai tuan rumah MTQ mendatang, cukup maksimal. Sekarang dia membuat panggung arena MTQ, menyiapkan fasilitas akomodasi dan transpotasi peserta selama MTQ berlangsung. Untuk memeriahkan acara itu, saat pembukaan akan ditampilkan kesenian Islam, seperti tarian massal, hadrah dan rebana.

“Hal itu semuanya melibatkan pelajar dan warga Muara Kaman,” kata Asmuni selaku Ketua Panitia MTQ itu.(hmp03/Gusdut)

Lokasi yang akan digunakan untuk melaksanakan  Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-31 Tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara di Muara Kaman.

Lokasi yang akan digunakan untuk melaksanakan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-31 Tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara di Muara Kaman.
Foto : Gusdut.

Rabu, 18 Februari 2009

Kondisi Jalan Masih Memprihatinkan

sapos.co.id.KONDISI sejumlah ruas jalan di wilayah Kecamatan Anggana masih memprihatinkan. Banyak yang belum diaspal, bahkan sebagian besar yang masih berupa jalan tanah. Akibatnya, kondisi jalan ini menjadi becek saat hujan lebat. Sulit diakses terutama menuju wilayah desa yang jauh seperti di Desa Handil Terusan dan Sepatin.

Hal ini diungkapkan Camat Anggana Akhmad Taufik Hidayat beberapa waktu lalu. "Susah jalannya, kalau hujan beceknya minta ampun," katanya.

Taufik berharap agar kondisi ini bisa segera teratasi. Pasalnya ini sangat vital bagi warga. Menurutnya, maju mundurnya pembangunan di sebuah wilayah, tergantung pula kepada kondisi jalannya, karena menjadi akses utama. Harapannya perekonomian warga pun bisa terdongkarak dengan kondisi jalan yang baik tersebut. Sebaliknya, jika kondisi jalannya rusak pembangunan pun pasti terhambat.

"Kalau bagus jalannya kan bisa mempermudah aktivitas warga. Biar bisa lancar aksesnya ke wilayah kota," lanjutnya.

Bukan hanya bagi warga, tetapi kondisi ini menurut Taufik turut membuat pihaknya kesulitan memantau kondisi di daerah tersebut. Makanya, alternatif yang paling sering digunakan yakni dengan menggunakan kendaraan air yang dicarter.

Dengan kondisi itu bukan berarti pihaknya tidak berbuat apa-apa. Selama ini ia terus berusaha untuk selalu meningkatkan infrastruktur dengan mengajukan anggaran perbaikan jalan lewat APBD.

"Tapi kan nggak semua yang dimohon itu bisa terkabulkan. Makanya kondisinya masih seperti itu," tambahnya.

Pihaknya berharap, kondisi itu bisa teratasi dalam waktu dekat ini. Tentunya dengan bantuan dan kerjasama semua komponen. Termasuk Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) yang memiliki wewenang untuk pengalokasian dana APBD bagi pembangunan.

"Memang masih banyak kondisi infrastruktur yang perlu dibenahi dan ditingkatkan Kita juga rencanakan 2009 ini mau bangun terminal Anggana. Mudahan nanti bisa diimbangi dengan perbaikan jalan," pungkasnya mengakhiri. (rm-2)

Minggu, 23 November 2008

7,4 Juta Ton Kepala Udang Terbuang

tribunkaltim.co.id.TENGGARONG,JUM'AT- Sebanyak 7, 4 juta ton per tahun kepala dan kulit udang di Kutai Kartanegara (Kukar) hingga saat terbuang sia-sia dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Selama ini hanya sedikit kepala dan kulit udang diolah, itupun oleh industri rumah tangga saja. Pemanfaatan kepala dan kulit udang itu kebanyakan tersebar di Kecamatan Muara Jawa, Samboja, Muara Badak, Marangkayu, Anggana dan Sanga-Sanga atau berada di daerah yang memiliki luasan tambak yang cukup luas.

"Limbah kepala udang dan kulitnya selama ini (sebagian besar) dibuang-buang saja. Kalaupun ada yang mengolahnya, kebanyakkan masih industri rumah tangga saja. Sambilannya ibu-ibu nelayan," Kasubdin Bina Usaha Dinas Perikanan dan Kelautan Kukar AS Syaifuddin, Rabu (12/11).

tribunkaltim.co.id. Menurutnya, belum berkembangnya pengolahan limbah kepala dan kulit udang, karena produk- produk yang dihasilkan dari limbah itu kurang laku dijual. Produk-produk itu, misalnya terasi dan petis.

"Terasi dan petis yang dihasilkan industri rumah tangga di Kukar sebenarnya lebih enak dari produk-produk dari Jawa. Tapi, karena harganya lebih mahal daripada produk di Jawa. Akhirnya, produk itu kurang pembeli, masyarakat lebih memilih produk dari Jawa yang harganya lebih murah," ujarnya.

Selain terasi dan petis, bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam kepala dan kulit udang, yakni citin dan sitosan dapat digunakan sebagai bahan pengawet dan kosmetik. "Sampai sekarang, kepala dan kulitnya dibuang saja. Sebab, belum ada yang tertarik untuk memanfaatkannya," ujarnya.(reo)

Dana Bansos 2008 segera Dibagi

sapos.co.id. TENGGARONG. Dana Bantuan Sosial (Bansos) di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBDP) Kutai Kartanegara (Kukar) 2008, tetap akan disalurkan kepada organisasi-organisasi kemasyarakatan dan pengurus tempat-tempat ibadah yang mengajukan permohonan. Organisasi kemasyarakatan mendapat Bansos 2008 adalah mereka yang lolos evaluasi dan verifikasi.

"Bansos tahun ini tidak dihapus, tetap disalurkan kepada pihak pemohon yang sudah dinyatakan layak menerima. Semua itu kan kita setujui pada APBDP 2008. Hanya memang, organisasi atau panitia pembangunan rumah ibadah yang menerima diseleksi dan disaring. Itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan Bansos. Lebih penting lagi, kades (kepala desa) dan lurah harus ikut mengawasi," ujar Ketua DPRD Kukar, H Salehudin kepada Sapos, Jumat (21/11) kemarin.

Tentu saja itu menjadi kabar gembira bagi masyarakat yang sudah mengajukan permohonan Bansos. Kabarnya, di APBDP 2008 ini terdapat sekitar 3 ribu item permohonan Bansos maupun hibah, dengan total anggaran mencapai Rp92 miliar lebih.

"Karena sekarang pembagian atau pencairan dananya masih dalam proses, jadi saya imbau masyarakat bersabar," katanya lagi.

Pencarian uang Bansos itu sekarang terbilang cukup rumit dan lebih ketat dari sebelumnya. Organisasi masyarakat yang mendapatkan Bansos diwajibkan membuka rekening di bank. Karena uang akan ditransfer dari Bendahara Badan Pengelolaan Keuangan (BPKD) dan Bendahara Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Setkab Kukar melalui bank.

"Proses pengambilan tidak seperti dulu. Organiasi penerima harus menunjukan jenis kegiatannya sesuai proposal diajukan. Pengambilan harus dilakukan ketua dan sekretaris serta bendahara. Seleksi dilakukan untuk menghindari adanya pengajuan Bansos oleh organisasi fiktif," tambah Salehudin.

Usulan Bansos yang diprioritaskan adalah pembangunan fasilitas umum dan tempat-tempat ibadah yang jelas keberadaannya. Nilai yang disetujui berkisar antara Rp5-15 juta dan lebih besar dari itu harus masuk hibah. Sedangkan Bansos beasiswa diperuntukan bagi mahasiswa Kukar, alokasinya mencapai Rp2,5 miliar. Mahasiswa yang memperoleh beasiswa adalah yang menempuh pendidikan di dalam dan di luar daerah.

Beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Mahasiswa berprestasi adalah mereka yang memiliki indeks prestasi (IP) 3 keatas. Sedangkan yang kurang mampu harus mendapat surat keterangan dari kelurahan atau desa setempat. Beasiswa bagi Diploma 3 (D-3) dengan etimasi bantuan sebesar Rp2-2,5 juta dan Strata 1 (S-1) dan S-2 mencapai Rp5 juta. Khusus untuk S-3 mendapat bantuan mencapai Rp10 juta. Nilai nominal beasiswa dan bantuan tersebut relatif sama dengan disalurkan lewat APBD 2004-2006.

"Bagi semua penerima, tolong dimanfaatkan Bansos tersebut dengan sebaik-baiknya. Karena tahun depan (2009, Red) Bansos akan dikurangi atau bahkan tak tertutup ditiadakan. Mengingat belanja Bansos ini kan sifatnya sunat. Jadi didahulukan semua belanja bersifat wajib dulu," kata Salehudin.(idn)


Rumah Ibadah Alakadarnya

sapos.co.id. SELAMA ini Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), telah terkenal kaya sumber daya alam (SDA) sehingga memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terbesar di Nusantara. Namun, di balik nama besar tersebut masih banyak tugas berat Pemkab Kukar, untuk membangunan kabupaten kaya ini agar lebih maju dan masyarakatnya sejahtera.

"Sabtu (8/11) sore lalu saya sempat berkunjung ke Dusun Bendang Raya di wilayah Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong. Di kesempatan singkat tersebut sejumlah warga Bendang Raya menyampaikan aspirasi mereka, agar dusun itu segera dimekarkan jadi desa definitif. Tak lain agar pembangunan dan pelayanan pemerintah ke masyarakat, lebih merata," ujar Sekretaris Komisi I DPRD Kukar, Saiful Aduar kepada harian ini.

Tidak hanya bercakap-cakap dengan warga, Saiful juga digiring menyaksikan sejumlah fasilitas umum di dusun yang terbilang cukup tertinggal itu, kendati jaraknya tidak seberapa jauh dari Tenggarong selaku Ibukota Kabupaten Kukar. Salah satunya adalah sebuah musala yang didirikan warga secara swadaya, kondisinya sudah memprihatinkan.

"Bisa dikatakan musala kecil itu sangat tidak layak dan sudah digunakan warga hingga 2 kali bulan puasa. Melalui media ini saya menyampaikan ke pihak terkait, baik Dinas PU (Pekerjaan Umum) maupun Bagian Kesra (Kesejahteraan Masyarakat) Sekretariat Kabupaten Kukar, bisa menangani masalah tersebut. Menurut saya, Pemkab Kukar dapat memberikan hibah untuk kepentingan pembangunan sarana ibadah warga Bendang Raya itu," katanya. (idin)

Masih Ada Jalan Rusak di Anggana

sapos.co.id. MASIH sangat mudah ditemukan jalan rusak di kawasan Desa Anggana, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara. Itu yang dikeluhkan masyarakat, padahal Pemprov sudah mengalokasikan anggaran untuk perbaikan jalan di daerah itu. Warga sebenarnya sudah senang karena Pemprov sudah memperbaiki jalan itu, tetapi yang menjadi permasalahan masih ada jalan milik Pemprov yang belum diperbaiki. Jalan yang tidak diperbaiki malah bukan jalan provinsi, tapi milik Pemkab

Perbaikan jalan yang dilakukan Pemprov hanya sampai simpang empat Anggana saja, padahal jalan yang menuju Kutai Lama masih termasuk wilayah Pemprov. Camat Anggana AKH Taufik Hidayat mengatakan, kalau jalan yang rusak itu sebenarnya memang milik Pemprov. Ia berharap dalam satu tahun setidaknya melakukan perbaikan 1 kilo di jalan milik Pemprov di wilayah Anggana.

Memang jalan yang menuju Kutai Lama tidak seluruhnya milik Pemprov, hanya sebagian saja. Sedangkan sebagiannya lagi jalan milik perusahaan. Kerusakan jalan itu memang tidak begitu parah, tapi dalam jarak sekitar 100 meter pasti ada sebuah lubang yang besarnya hampir separuh jalan, bahkan ada yang besarnya setengah jalan.

Warga sangat berharap jalan itu segera diperbaiki, agar seluruh jalan di daerah Anggana semuanya baik. Sehingga perjalanan mereka tidak terganggu. "Saya yakin seluruh warga di sini pasti sangat senang apabila jalan diperbaiki seluruhnya," kata Sumiatai warga sekitar, ditemui Sapos. (rm-1)

Rabu, 19 November 2008

Awal Tahun Depan Jembatan Kutai Lama Rampung

sapos.co.id. PROYEK pembangunan Jembatan Kutai Lama, yang menghubungkan Kelurahan Anggana dengan Kutai Lama awal tahun 2009 mendatang dipastikan rampung. Pembangunan jembatan tersebut sebenarnya sudah beberapa tahun yang lalu dimulai, tapi baru tahun ini pengerjaan jembatan tersebut dikebut.

Camat Anggana Akhmad Taufik Hidayat, yang ditemui Sapos kemarin (18/11) di kantornya, mengatakan jembatan tersebut sudah hampir selesai, sekarang tinggal tahap penyelesaiannya saja.

"Jembatan itu sudah rampung sekitar 70 persen. Sekarang yang masih dikerjakan pengecoran jalan, tahap akhir dinding pembatas, serta pemasangan pagar jembatan. Setelah pengecoran selesai, akan dilanjutkan dengan pembuatan jalan dari Anggana menuju jembatan serta dari Kutai Lama ke jembatan itu. Saat ini pembuatan jalan baru separuh. Di wilayah Anggana pembuatan jalan tinggal pertengahan saja, karena masih terhalang oleh hutan.

"Saya sangat mengharapkan jembatan itu cepat selesai, jadi kalau saya mau pulang ke rumah tidak perlu naik kapal penyebrangan lagi, " kata Fadhli, seorang warga Kutai Lama, ditemui Sapos kemarin.

Diharapkan jembatan itu akan memudahkan warga sekitar, baik warga Anggana yang ingin ke Kutai Lama atau sebaliknya. Para warga yang tinggal di Kutai Lama sangat mengarapkan jembatan itu cepat selesai, terutama pelajar yang tinggal di sana. Pasalnya semua pelajar Kutai Lama bersekolah di Anggana. Banyak juga pemuda di Kuati Lama kuliah di Samarinda, jadi kalau jembatan jadi mereka dapat menghemat waktu perjalanan.

Kini yang mesti di pikirkan oleh pemerintah Kukar kedepannya adalah, setelah pembangunan jembatan rampung bagaimana nasib warga yang mencari nafkah dari hasil meyeberangkan para warga dari Anggana ke Kutai Lama atau sebaliknya. Otomatis dengan adanya jembatan itu, warga tidak lagi menggunakan jasa feri penyeberangan. (rm-1)

Senin, 20 Oktober 2008

Distribusi Air PDAM Lancar

Sapos.co.id. SEJAK tahun 2001 lalu, masyarakat Kecamatan Anggana sudah mendapat pasokan air bersih. Bahkan, setelah dibangun tahun 1998 dan mulai beroperasi 2001 lalu, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kecamatan Anggana mengaku sudah mendistribusikan air bersih pada sekitar 1.200 pelanggan di 3 desa, yaitu Desa Anggana, Sungai Mariam dan Sidomulyo.

Air baku yang didistribusikan kepada warga tersebut berasal dari Sungai Mahakam. Kemampuan mesin pompa yang dimiliki PDAM, mampu memproduksi air sebanyak 20 liter perkubik. Sementara harga satu liter perkubiknya mencapai Rp2.750.

Menurut Pelaksana Operator Produksi PDAM Kecamatan Anggana, M Zachroni, selama ini pihaknya tidak begitu mengalami banyak permasalahan dalam proses pendistribusian. Kalau ada, itu hanya mati air sesaat yang diakibatkan pipa bocor atau mampetnya penyedot air di Sungai Mahakam.

"Kualitas air yang kami olah sampai sekarang belum mendapat komplain dari masyarakat. Memang air kadang keruh, itu terjadi karena endapan di dalam pipa. Hal itu kami anggap biasa dan bisa diatasi oleh konsumen sendiri," ungkap Zachroni.

Ditambahkannya, jika air PDAM sedang keruh, warga hanya tinggal menyalakan air terus menerus selama 5 menit. Setelah itu warna air kembali normal. Zachroni mengaku, terkadang air keruh tidak bisa dihilangkan. Itu terjadi saat musim kemarau yang mengakibatkan air sungai berwarna merah. Tapi dengan warna air seperti itu tidak berpengaruh terhadap kesehatan tubuh para konsumen. (rm-4)

Pasar Malam Perlu Diperhatikan

Kesadaran Pedagang dan Pengunjung Dinilai Kurang

Sapos.co.id. KEBERADAAN pasar malam di Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendapat sorotan tajam dari masyarakat setempat. Saat siang hari, kondisi pasar malam yang terletak di Jl Bhayangkara tersebut terlihat seperti pasar kumuh. Sehingga kawasan dikatakan tidak enak dipandang.

Warga meminta agar pihak kecamatan dan pengurus desa segera membenahi kawasan tersebut. Jangan sampai, kawasan tersebut malah bisa dikatakan sebuah nilai buruk bagi Desa Sungai Mariam. Pasalnya kawasan ini merupakan salah satu daerah yang berkembang.

"Seharusnya pasar malam di sini ditata dengan baik. Jangan sampai malah terbengkalai seperti itu. Terutama siang hari, pasar malam tersebut bisa dilihat dengan jelas kondisinya," ungkap Murjani, warga setempat.

Dikatakannya lagi, kesadaran pedagang yang menggunakan petak-petak di daerah tersebut dinilai kurang. Setelah menggelar dagangannya, pasar malam tersebut malah ditinggal pergi. Sehingga sampah-sampah bekas dagangan berserakan di sepanjang petak-petak tersebut.

Selain itu, kondisi petak dagangan juga terlihat sudah kumuh. Itu lantaran pedagang yang menggunakan petak tersebut tidak bisa merawat dengan baik. Beberapa petak sudah terlihat reyot dan nyaris roboh. Belum lagi kondisi sekitar seperti tidak terawat, rumput menjadi panjang. Juga parit yang kotor akibat tumpukan sampah yang dibuang pengunjung dan pedagang.

"Kalau tidak ada perhatian khusus dari aparatur pemerintahan yang berwenang di daerah ini, akan menyebabkan kawasan ini seperti daerah kumuh. Tentunya kita tidak mau Desa Sungai Mariam dikategorikan kawasan kumuh," cetus Murjani lagi. (rm-4)

Perahu Penyeberangan Jadi Alternatif Warga

Akibat Mangkraknya Pembangunan Jembatan Kutai Lama

Sapos.co.id. KEBERADAAN jembatan bagi daerah yang dipisahkan oleh sebuah sungai sangat vital perannya. Pasalnya, dari situlah arus lalu lintas dari satu daerah ke daerah lainnya berjalan. Begitu juga seperti yang terjadi di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Arus lalu lintas dari Desa Sidomulyo menuju Kutai Lama terpaksa dilakukan menggunakan perahu penyeberangan. Kondisi Jembatan Kutai Lama yang rencananya akan dijadikan penghubung dua desa tersebut mangkrak. Tak ada aktivitas pembangunan di jembatan tersebut.

Untuk menyeberangi sungai, warga terpaksa menggunakan perahu penyeberangan yang beroperasi selama 24 jam nonstop dengan tarif berbeda-beda. Tarif penyeberangan untuk sepeda motor, warga harus mengeluarkan uang Rp4.000, sedangkan untuk mobil dikenakan tarif Rp13.000. Namun, bagi pejalan kaki tidak dikenakan biaya.

"Mau tidak mau kita harus menggunakan perahu untuk menyeberang, meskipun harus membayar. Soalnya tidak ada jembatan di daerah ini, satu-satunya fasilitas penyeberangan yang ada hanyalah perahu penyeberangan yang terus beroperasi 24 jam nonstop," ungkap Sulaeman, warga Desa Sungai Mariam.

Ia mengeluhkan soal mangkraknya Jembatan Kutai Lama yang bertahun-tahun tidak kunjung selesai. Apalagi, warga Kecamatan Anggana sangat berharap jembatan tersebut segera selesai guna memperlancar arus lalu lintas. Sehingga warga tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk menyeberang ke Desa Kutai Lama.

"Seharusnya pemerintah bisa lebih peka terhadap kondisi daerah yang letaknya jauh dari kota seperti ini. Jangan malah, pembangunannya diabaikan begitu saja," cetusnya lagi. (rm-4)

Kamis, 16 Oktober 2008

Masalah SDM dan Infrastruktur Jadi Sorotan

Saat Debat Kandidat Kades Anggana
sapos.co.id.RATUSAN warga Desa Anggana, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara memadati Gedung Serbaguna Desa yang terletak di Jl Masjid, kemarin malam, untuk menyaksikan debat kandidat calon Kepala Desa (Kades) Anggana periode 2008 - 2013. Debat kandidat itu adalah rangkaian kegiatan pemilihan kepala desa (Pilkades) sebelum tahap pencoblosan yang rencananya digelar 20 Oktober mendatang. 5 calon yang ikut dalam debat tersebut adalah Adi Kusnawan, Botri Suwondo, Wagimin, Nordiansyah, Eka Sri Rahayu.

"Kegiatan ini kami laksanakan untuk menguji pemikiran kritis dari para calon, di hadapan masyarakat, agar tidak salah pilih. Walaupun bukan jaminan," ungkap Ketua Pilkades Dadi Wahab SPd MM kepada Sapos.

Dalam debat kandidat tersebut, selain pemaparan visi dan misi. Para calon juga diberikan kesempatan untuk saling beradu argumentasi terhadap visi dan misi yang telah dipaparkan. "Ini merupakan tahap awal ujian bagi para calon sebelum mereka duduk di bangku kepala desa. Pertanyaan yang diberikan merupakan permasalahan dan harapan yang harus bisa diselesaikan," lanjut Dadi.

Secara umum, permasalahan utama yang menjadi sorotan tajam mengenai sarana infrastruktur, pendidikan, dan pengangguran. Ketiga hal tersebut, saat ini memang menjadi kendala, khususnya di Desa Anggana.

"Kekayaan alam Desa Anggana sangat luar biasa, hal itu dapat dilihat dengan beberapa perusahaan tambang dan migas yang ada. Tetapi pembangunan di daerah ini sangatlah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan daerah lain, hal inilah yang harus ditemukan jawabannya oleh semua kandidat yang ada," ucap salah seorang warga Anggana.

Diakhir kegiatan panitia menggelar kegiatan penyampaikan ikrar bersama para calon untuk dapat menjaga suasana kondusif, yang selama ini sudah tercipta di Desa Anggana, serta siap untuk menerima kekalahan.

"Siapa pun yang nantinya terpilih adalah putra-putri terbaik desa ini, jadi tidak ada lagi yang dapat dipermasalahkan. Saya yakin walaupun kami berbeda visi dan misi, namun tetap satu tujuan yakni membangun dan membawa desa tercinta ini kearah yang lebih baik," imbuh Wagimin, salah seorang calon kades. (rm-4)

Selasa, 07 Oktober 2008

Semenisasi Jalan Disambut Warga Desa Anggana

Harapkan Pemeliharaan juga Diperhatikan
sapos.co.id.KONDISI jalan rusak, mulai dari berlubang, berlumpur dan berdebu yang selama ini menjadi keluhan warga Kecamatan Anggana, khususnya mereka yang berada di Jl Manunggal, Desa Sungai Mariam, Kukar, sejak satu minggu yang lalu sudah bisa bernafas lega. Pasalnya, dalam beberapa minggu terakhir sudah dilakukan semenisasi.

Tak ada lagi hujan debu yang selama ini sangat dikeluhkan warga. Jalan yang menghubungkan antara RT 10, 11 dan 12 tersebut sudah mulus.

"Kami berterima kasih atas pembangunan jalan ini, karena hal ini memang telah lama kami keluhkan," kata Ariani, salah seorang warga Jl Manunggal.

Menurut Ariani, pembangunan jalan tersebut masih ada kekurangan, yaitu tidak adanya drainase di kanan-kiri jalan, sehingga akan mempengaruhi ketahanan jalan tersebut.

"Kami sih mengharapkan agar jalan ini dilengkapi dengan parit, jadi kalau hujan ada saluran airnya. Kalau airnya mengendap di situ saja, jalannya akan cepat hancur," lanjut Ariani.

Dikatakannya lagi selain pembangunan drainase, warga juga sangat mengharapkan agar jalan yang sudah dibangun tersebut diperhatikan perawatannya, karena hal itu juga sangat berpengaruh terhadap ketahanan jalan.

"Sebenarnya membangun itu lebih mudah dari memelihara, semoga pemerintah dapat lebih memperhatikan hal ini. Untuk membangun satu jalan, tentunya tidak sedikit dana yang dibutuhkan, karena itu bangunan yang sudah ada hendaknya sangat diperhatikan perawatannya," imbuh Ariani.

Pembangunan beberapa jalan di kawasan Kecamatan Anggana, diharapkan warga akan menjadi titik terang terhadap pembangunan beberapa infrastruktur lain yang saat ini sangat dibutuhkan warga, misalnya pasar dan terminal.

"Kecamatan Anggana adalah daerah kaya, karena itu harapan kami untuk majunya pembangunan di kawasan ini tidak pernah putus. Toh apa yang kami harapkan bukan milik orang, tapi milik kami sendiri," cetus Ariani. (rm-5)